SIGARET KRETEK TANGAN
Dari total sekitar 60 juta penikmat rokok, 90% nya
adalah penikmat kretek. Namun demikian jumlah penikmat sigaret kretek tangan
(SKT) mengalami trend penurunan, dikalahkan oleh sigaret kretek mesin (SKM).
Data yang dilansir oleh Ernest end Young menunjukan volume SKT pada tahun 2014
sebanyak 60 miliar batang, jauh tertinggal dari SKM di tahun yang sama mencapai
199 miliar batang.
Padahal SKT adalah salah industri padat karya yang
menyerap tenaga kerja sangat besar, khususnya tenaga kerja perempuan. Pada
umumnya tenaga kerja besar terserap untuk bagian pelintingan. Dalam sebuah
mesin pelinting kretek, seorang buruh dapat memproduksi SKT 350 batang
perjamnya. Dari tangan-tangan merekalah jutaan orang Indonesia menikmati kretek
dan negara menikmati sumbangsih hulu-hilir industri ini. Para pekerja perempuan
tersebut tidak hanya diambil dari daerah kawasan industri kretek. Sebut saja di
Kudus, Kediri, Malang, Surabaya, Lumajang dan berbagai daerah lainnya, yang
merupakan salah satu sentra industri kretek. Ribuan tenaga kerja yang mayoritas
perempuan datang dari berbagai wilayah sekitarnya. Pada pagi hari kita akan
menyaksikan para buruh perempuan itu menggunakan berbagai moda transportasi
untuk menuju pabrik-pabrik kretek, memulai melinting kretek. Mulai dari
rombongan buruh yang menggunakan sepeda, bus kota, motor, angkutan kota, atau
juga berjalan kaki.
Tembakau yang setiap harinya dilinting oleh para
pekerja perempuan tersebut umumnya telah disimpang hingga selama tiga tahun
dalam lingkungan terkontrol. Hal ini dilakukan untuk meningkatkan cita rasa
dari tembakau. Hal serupa juga berlaku pada cengkeh, yang melewati proses
penyimpanan hingga satu tahun lamanya, sebelum kemudian di rajang. Kemudian
tembakau yang telah disimpan tersebut akan diproses terlebih dahulu sebelum
dicampur dengan rajangan cengkeh kering. Racikan tembakau dan cengkeh yang siap
untuk dilinting buasanya disebut cut filler, disimpan dalam lumbung besar,
hingga akhirnya memasuki proses produksi. Pada dasarnya produksi sigaret kretek
tangan memiliki tiga tahapan utama, yaitu pemprosesan daun tembakau dan
cengkeh, produksi atau pelintingan dan terakhir adalah pengemasan serta
persiapan distribusi. Dalam tiap tahapan produksi selalu memiliki pengendalian
mutu yang cermat, untuk memastikan bahwa setiap batang kretek yang dibuat
memiliki kualitas yang baik.
Ada sebuah cerita menarik di satu pabrik di Kudus
yang masih mempekerjakan ratusan pekerja perempuan yang telah berusia lanjut.
Mereka telah bekerja di pabrik tersebut sejak puluhan tahun, atau tepatnya
sejak pabrik tersebut berdiri. Mereka memproduksi rokok klobot, yang sebenarnya
dipasaran sudah sangat sedikit jumlah peminatnya.
Pemilik perusahaan mengatakan bahwa sebenarnya
produksi klobot tersebut terhitung rugi, namun perusahaan tidak akan
memberhentikan produksi klobot sekalipun merugi. Bagi perusahaan, para buruh
perempuan lansia itu telah berjasa bagi perusahaan, karena ikut serta membangun
perusahaan dari skala kecil sampai saat ini menjadi besar. Mereka tak akan
dipecat oleh perusahaan, kecuali buruh tersebut mengundurkan diri atau pensiun.
Bagi perusahaan itu adalah bagian dari balas jasanya kepada mereka yang telah
bekerja bersama membangun pabrik kretek itu.
Sumber : Komunitas kretek
Sumber : Komunitas kretek




